Speak Up Pemuda Bikin Gerah dan Resah Pemerintah


OPINI, Sulselpos.id - Sering kali kita mendengar kalimat tentang rusaknya sebuah negara dan berjayanya para penjahat adalah karena diamnya orang-orang yang mengetahui kebenaran.

Sedangkan keberanian bercerita dan mengungkapkan sebuah kebenaran semakin langka namun mereka yang mendengar dan langsung menghakimi bahkan menghukum lebih banyak dari pada mereka yang ikut merasakan pahitnya orang bercerita karena takut dengan kekuasaan. 

Padahal ingin didengar dan dipahami adalah sesuatu kebutuhan yang mendalam, tetapi sayangnya hal ini tidak selalu terpenuhi, karena ada tekanan untuk menyembunyikan kebenaran dan memilih untuk menyamarkan kesulitan yang dihadapi, takut akan penilaian, stigma, atau mungkin ketidakpahaman orang lain sebagai pendengar bahkan takut akan terhakimi oleh orang-orang berkuasa.

Kata diam dipatahkan oleh seorang pemuda yang baru-baru ini publik ramai bicarakan namanya Bima Yudho Saputro, seorang TikToker dengan akun @awbimaxreborn

Pada tanggal 7 April 2023, Bima yang merupakan seorang pemuda warga negara Indonesia yang berasal dari provinsi Lampung yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Australia, hal yang membuat pemuda ini dikenal di kalangan Media sosial karena mengunggah video tayangan berjudul "Alasan Kenapa Lampung Tidak Maju". 

Adapun poin-poin yang disampaikan Bima terkait kritiknya terhadap provinsi Lampung yaitu :

1. Jalanan yang rusak

2. Pembangunan Kota Baru yang mangkrak

3. Sistem Pendidikan yang lemah dan Banyaknya SDM yang unggul tetapi tidak menetap di Lampung

4. Banyaknya kasus korupsi dan suap menyuap

5. Sektor pertanian yang tidak stabil

kompasiana.com 22/05/2023

Lima point yang di sampaikan Bima ini hanya nomor 1 yang paling serius disoroti, 4 yang lain seakan tidak pernah ada di dalam Video tersebut. Bukankah sama pentingnya 4 poin yang lain untuk kemajuan suatu daerah.

Usai viral Bima mengkritik pemerintah Lampung, muncul suara-suara rakyat yang mengungkapkan ‘kebobrokan’ kinerja pemerintah daerah-nya. Salah satunya seorang perempuan yang Bernama Rahma melempar kritikan terhadap pemerintah di Aceh, mulai dari yang terkecil perangkat desa, pemerintah daerah hingga pemerintah Provinsi Aceh. 

Permasalahan yang  sama dari provinsi ke provinsi lainnya yang terus bertumbuh kembang yaitu Korupsi, Menurut laporan Transparency International, Indonesia memiliki skor indeks persepsi korupsi (IPK) 34 dari skala 0-100 pada 2022. Skor ini menjadikan Indonesia sebagai Negara terkorup ke-5 di Asia Tenggara databoks.katadata.co.id 22/05/2023. 

Ini data yang terdata namun yang belum terdata korupsi di Indonesia sangatlah lebih tinggi karena mulai dari perangkat desa hingga Provinsi ada yang melakukan tindakan tercel yaitu sebagaimana yang di ungkapkan oleh Rahmah “Aceh gak maju-maju, gimana mau maju kalau pemerintahnya koruptor. Apalagi pemerintah tingkat desa, belum lagi pemerintah tingkat kecamatan, kabupaten hingga provinsi,” ujarnya. 

Merujuk dari laporan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Aceh menduduki peringkat 13 provinsi paling korup di Indonesia, dengan jumlah 41 kasus. Hal ini berdasarkan data yang diambil dari kasus korupsi di tahun 2004 hingga 2020. SerambiNews.com 22/05/2023

Pemuda yang juga mengikuti Jejak teman-teman muda lainnya yang berani Berbicara tentang kebenaran adalah pemuda yang Bernama Husein Ali Rafsanjani (27), guru muda di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, memilih mengundurkan diri sebagai aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Pangandaran, karena tidak mau mencabut laporan dugaan praktik pungutan liar (pungli) di Pemkab Pangandaran. 

PNS bernama Husein Ali Rafsanjani itu mengaku diminta membayar sejumlah uang saat pelatihan dasar (latsar) calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2020. Lantas guru yang berusia 27 tahun itu menceritakan kisahnya di media social TikTok dengan akun @husein_ar yang saat ini tengah jadi sorotan netizen.

Karena pengakuannya itulah hingga menarik perhatian Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata, yang mengundang Husein untuk bertemu guna membahas masalah itu. 

Dari keberanian yang dilakukannya Husein Ali Rafsanjani akhirnya menerima tawaran Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil untuk pindah mengajar ke Bandung.  bandung.kompas.com 22/05/2023

Dari 3 video pengakuan dari pemuda pemudi kita ini telah menggambarkan kalau kebenaran harus di ungkapkan, jelas video yang mereka buat akan mengundang dampak positif dan negativ, seperti Bima pemuda Lampung selain dukungan positif juga banyak komentar negativ kerana kata-kata yang dia gunakan seperti salah satu Dajjal di menit ke 00.12 dalam videonya dan kata yang lain juga banyak membuat gerah penonton video tersebut, namun di samping itu keberanian mereka perlu kita apresiasi dan harus terus kita sebar luaskan agar banyak kebenaran yang terungkap dengan tujuan agar Indonesia lebih maju lagi.

Dalam Islam seruan kepada kebaikan dan larangan dari kejahatan atau keburukan menjadi salah satu pondasinya. Bahkan ada yang mengatakan seandainya ada rukun Islam yang keenam maka “Amar Ma’ruf dan Nabi Mungkar” adalah rukunnya yang keenam.

Saya pernah membaca sebuah ungkapan Inggris mengatakan “enough for evil to thrive when the good people do nothing”. Arti dari ungkapan ini kira-kira: “Cukuplah kejahatan itu akan merajalela ketika orang-orang baik tidak melakukan apa-apa”. 

Kalimat ini sangat relate sekali dengan keadaan kita saat ini, karena banyaknya orang-orang diam di negeri ini sehingga kejahatan yang menjajah kebenaran dan kebaikan. 

Untuk itu semoga kedepannya banyak orang-orang yang peka dengan keadaan sekitar dan peduli namun hal itu tidak hanya sekedar diketahui tapi kita sama-sama mampu mengungkapkan kebenaran, karena apabila hal itu menjadi permasalahan yang menyakiti kita dengan bukti yang nyata, maka yang merasakan tidak hanya kita sendiri tapi banyak orang-orang yang meringis namun terbelenggu dengan ketidakberdayaanya. 

Namun bagaimana pun kondisinya tetap sampaikanlah kebenaran dengan cara yang benar, agar Allah juga Ridho dengan hal apa yang kita perjuangkan. Kebaikkan pasti akan dibayar dengan kebaikkan pula.

Penulis : Novita Sari, S.H

Tulisan Tanggangu Jawab Penuh Penulis

0 Komentar