Opini Nur Maizurah, Dunia Dalam yang Tertekan: Membaca Luka Psikologis Perempuan
Sinjai, Sulselpos - Opini Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering menerima banyak label, seperti harus lembut, sabar, tidak boleh terlalu vokal, dan lain-lain.
Label ini sebenarnya bukan sesuatu yang lahir secara alami, tetapi hasil dari konstruksi sosial.
Akibatnya banyak perempuan yang akhirnya menjalani hidup bukan berdasarkan apa yang dia inginkan, tetapi berdasarkan apa yang dianggap “pantas” oleh lingkungan. Di sinilah menurut saya muncul konflik psikologis antara keinginan pribadi dengan tuntutan sosial.
Kalau dikaitkan dengan psikoanalisis, perempuan sering kali menyimpan banyak pengalaman dan perasaan di dalam dirinya yang tidak sepenuhnya disadari. Luka, tekanan, atau bahkan keinginan yang tidak tersampaikan bisa tertanam dalam “dunia dalam” (inner world). Sementara itu, “dunia luar” menuntut perempuan untuk tampil kuat, baik, dan sesuai norma.
Ketika dua hal ini tidak sejalan, perempuan bisa merasa tertekan, bingung, bahkan kehilangan arah dalam memahami dirinya sendiri.
Selain itu, perempuan juga sering mengekspresikan dirinya tidak hanya lewat kata-kata, tetapi melalui simbol seperti cara berpakaian, seni, tulisan, atau bahkan sikap diam.
Ini menunjukkan bahwa pengalaman perempuan itu kompleks dan tidak selalu bisa dijelaskan secara langsung. Kadang justru hal-hal yang tidak diucapkan itu yang paling bermakna.
Saya juga melihat bahwa sistem sosial seperti budaya patriarki dan tekanan ekonomi (misalnya dalam sistem kapitalisme) ikut mempersempit ruang gerak perempuan.
Perempuan sering dijadikan objek dinilai dari penampilan, peran domestik, atau standar tertentu sehingga perlahan kehilangan otonomi atas dirinya sendiri. Bahkan tanpa sadar, perempuan bisa ikut mempercayai standar tersebut dan menganggap itu sebagai kebenaran.
Menurut saya, kunci dari memahami psikologi perempuan adalah kesadaran diri. Perempuan perlu mengenali mana yang benar-benar berasal dari dirinya, dan mana yang hanya hasil dari tekanan lingkungan. Ketika perempuan sudah mampu memahami dirinya sendiri, dia tidak akan mudah terpengaruh oleh standar luar, dan bisa lebih bebas menentukan pilihan hidupnya.
Jadi, inti yang ingin saya tekankan adalah: psikologi perempuan bukan hanya tentang bagaimana perempuan “dibentuk”, tetapi bagaimana perempuan bisa menyadari proses itu dan kemudian mengambil kendali atas dirinya sendiri.
Di situlah letak kekuatan perempuan bukan hanya sebagai individu yang dipengaruhi, tetapi sebagai subjek yang mampu menentukan arah hidupnya sendiri.
Penulis: Nur Maizurah Kohati HMI Cabang Sinjai.
