Menjelang Akhir Periode ASA Bupati Sinjai, Tiga Masalah Besar Belum Mampu Teratasi di Sinjai

Banjir di Sinjai Utara
SINJAI, Sulselpoa.id - Kepemimpinan Bupati Andi Seto Asapa dan Andi Kartini Ottong telah memasuki tahun kelima periode 2018-2023.

Sinjai yang dinahkodai Andi Seto Asapa tinggal sekitar dua bulan lebih memimpin Kabupaten Sinjai.

 Salah seorang aktivis di sinjai bahkan mengatakan di salah satu media lokal, bahwa keberhasilan Bupati Sinjai di bidang infrastruktur salah satunya adalah pembangunan alun-alun.

Namun sejumlah masalah krusial di hadapan mata masih menjadi tanda tanya bahkan belum ada solusi yang konkret.

Mulai dari masalah banjir, pemenuhan air bersih hingga persoalan sampah yang masih menjadi masalah dari waktu ke waktu.

Tiga masalah ini masih belum ada solusi dari Pemerintah Daerah. Seminggu yang lalu misalnya, Kamis (13/7/2023) Sinjai Kota kembali terendam banjir yang menyebabkan proyek pembangunan alun-alun juga ikut terendam banjir yang menyebabkan ribuan orang ikut merasakan dampaknya.

Masalah-masalah tersebut sudah seharusnya menjadi perhatian khusus oleh pemangku kebijakan agar memberikan solusi serta penanganan yang tepat agar tidak berulang. Berikut beberapa masalah di Kabupaten Sinjai yang belum menemukan solusinya.

Langganan Banjir

Harapan masyarakat Kabupaten Sinjai yang tinggal di perkotaan agar terhindar dari masalah banjir yang terus menghantui nampaknya masih harus gigit jari. Pasalnya, hingga saat ini menjelang berakhirnya kepemimpinan pemerintah daerah Andi Seto Asapa belum ada solusi penanganan yang konkret untuk mengatasi banjir.

Bahkan menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sejak bulan januari hingga juli 2023 sudah lima kali kota sinjai terendam banjir.

Hal ini tentu berdampak buruk bagi ratusan kepala keluarga, rusaknya perabotan rumah tangga hingga membawa dampak buruk bagi kesehatan masyarakat yang terdampak banjir.

Pada tahun 2019 lalu, Bupati Sinjai sempat memboyong beberapa unsur forkopimda untuk melakukan studi banding ke Semarang belajar menangani masalah banjir, namun belum juga membuahkan hasil.

Tidak hanya itu, janji penanganan masalah banjir dengan membangun embung dan kolam retensi juga belum terealisasi.

Masyarakat menilai janji penanganan masalah banjir di Kota Sinjai hanya sekedar bualan semata yang menjadi pemanis di tengah masyarakat.

Masalah Pemenuhan Air Bersih

Selain masalah banjir yang bisa membawa dampak buruk bagi kesehatan masyarakat, pemenuhan kebutuhan air bersih di Kabupaten Sinjai juga masih menjadi masalah yang cukup krusial.

Dalam 2 tahun terakhir ini masalah distribusi kebutuhan air bersih di Kabupaten Sinjai masih terus menjadi masalah. Pasalnya, sering kali distribusi air PDAM Sinjai tidak mengalir.

Pipa jaringan air baku Balantieng sering kali mengalami kebocoran. Mulai dari sambungan yang lepas hingga pipa pecah menjadi alasan air tidak mengalir.

Meski demikian, belum ada alternatif lain yang dilakukan pemerintah daerah atau PDAM untuk menanggulangi masalah air yang tidak mengalir ketika mengalami kerusakan pada jaringan.

Masyarakat hanya menunggu perbaikan selesai dilakukan yang bahkan waktunya yang tidak sebentar.

Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus tetap tersedia, mulai dari kebutuhan mandi hingga kebutuhan minum dan memasak.

Masalah pemenuhan kebutuhan air bersih di Kabupaten Sinjai ini beberapa kali disuarakan oleh Aliansi Masyarakat Sinjai yang melakukan aksi demonstrasi di Kantor Bupati Sinjai.

Hal ini menjadi catatan serius pemerintah daerah Kabupaten Sinjai di bawah kepemimpinan Andi Seto Asapa dan Andi Kartini Ottong tidak serius menyelesaikan masalah pemenuhan kebutuhan dasar air bersih masyarakatnya.

Bahkan di tahun 2022 lalu, event olahraga yang digelar di Kabupaten Sinjai (Porprov XVII). Atlet merasakan kesusahan mendapatkan air bersih hingga beberapa diantaranya harus menumpang di masjid untuk mandi.

Hingga saat ini, keluhan soal distribusi air masih sering disampaikan oleh sejumlah pelanggan PDAM Sinjai, termasuk warga di Jalan Teratai, Perumahan Tokinjong dan Jennae serta sebahagian Jalan Jenderal Sudirman.

Menurut Direktur PDAM Sinjai, Nasrullah Mustamin, ketiga daerah tersebut merupakan wilayah zona merah disebabkan distribusi air pada pipa merupakan titik terakhir dan terkadang suplai air terlalu kecil.

"Alhamdulillah, saat ini suplai air dari  balantieng dan sungai tangka untuk pelanggan sudah mengalir dengan kecepatan masing-masing 100 liter perdetik," katanya, Kamis (20/7/2023)

Namun ada beberapa kendala yang terkadang membuat distribusi air tidak mengalir dan butuh beberapa hari untuk penormalan. Seperti, mesin pompa pengisap yang berlumpur pasca banjir membuat suplai air sekitar 70 persen tidak berjalan normal.

"Petugas butuh melakukan penormalan 4 hingga 5 hari karena dilakukan pembersihan endapan serta perbaikan pipa," ungkap Nasrullah.

Hingga saat ini, Perumda Tirta Sinjai Bersatu masih menunggu bantuan dana dari Kementerian PUPR untuk membenahi jaringan pipa JDU (Jaringan Distribusi Utama) air baku balangtieng, yang sejak difungsikan sampai sekarang sering mengalami kerusakan.

Masalah Sampah

Bukan hanya masalah Banjir dan Pemenuhan kebutuhan air bersih, masalah sampah juga menjadi momok yang cukup krusial di Kabupaten Sinjai.

Pasalnya, kapasitas lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tondong di Desa Kampala, Kecamatan Sinjai Timur, Sulawesi Selatan sudah mulai mengalami over kapasitas.

Jika pemerintah daerah tidak membuka lahan baru yang menjadi tempat pembuangan sampah, TPA Tondong tidak lama lagi bakal tidak akan mampu mengakomodir keseluruhan sampah di Kabupaten Sinjai yang jumlahnya mencapai hingga 90 ton perhari.

Lagi-lagi masyarakat menilai Pemerintah Daerah Sinjai terkesan tutup mata untuk menangani masalah sampah di Sinjai. Hal Itu terlihat, tidak dianggarkannya pembebasan lahan untuk lokasi TPA baru padahal sudah ada lahan 15 sampai 17 hektar yang siap dimanfaatkan.

Disisi lain, janji pengelolaan sampah modern yang pernah diucapkan pemerintah daerah belum terbukti hingga saat ini seolah hanya menjadi pemanis bibir di masa kampanye pada 2018 lalu.

Termasuk, keluhan soal keterlambatan pengangkutan sampah rumah tangga yang menumpuk di sejumlah titik kota sinjai hingga mengeluarkan bau menyengat dan mengganggu kenyamanan masyarakat.

(Ril/Ims)

0 Komentar