OPINI : Dampak Gangguan Kesehatan Mental Dikalangan Remaja Usia Sekolah -->

OPINI : Dampak Gangguan Kesehatan Mental Dikalangan Remaja Usia Sekolah

Senin, 05 Juli 2021, 14:10

OPINI, Sulselpos.id - Kesehatan merupakan salah satu perhatian utama umat manusia. Semua manusia berharap sehat jasmani dan sehat rohani sepanjang hayatnya, meskipun hal itu tidak akan pernah terjadi, karena setiap makhluk pasti mengalami gangguan kesehatan, bahkan suatu saat kematian. Gangguan kesehatan dapat berhubungan dengan organ-organ tubuh, biasanya disebut dengan penyakit.

 Tak terhitung jumlah penyakit yang telah diidentifikasi oleh dunia kedokteran berikut cara-cara pencegahan dan pengobatannya. Gangguan itu dapat berhubungan dengan kejiwaan sebagai sisi dalam manusia, dikenal dengan gangguan kesehatan mental.
 
 Adanya gangguan kesehatan, baik yang berkaitan dengan kesehatan fisik maupun mental, menjadi media penyadaran bahwa manusia bukanlah makhluk sempurna, dan dengan itu pula berikhtiar mencari upaya pencegahan, penyembuhan, dan rehabilitasi. 
Pada awalnya manusia hanya menemukan penyakit yang disebabkan atau berkaitan dengan fisik saja karena memang mudah dikenali, misalnya luka, cacar, batuk, dan sebagainya. Sejalan dengan perkembangan hidup manusia ditemukan pula penyakit-penyakit yang berhubungan atau disebabkan oleh aspek kejiwaan, mulai dari gangguan ringan sampai yang berat seperti depresi bahkan hilang ingatan, alias gila, yang dapat berujung pada bunuh diri.

 Tidak sedikit orang yang mengalami gangguan kejiwaan karena berbagai faktor, seperti beban atau tekanan hidup, tidak mampu menerima kenyataan, kehilangan anggota keluarga yang amat dicintai dan berbagai sebab yang tidak ada hubungannya dengan bakteri, kuman, virus, atau sebab-sebab fisik lainnya. 

Pada dasarnya setiap manusia memiliki kebutuhan hidup yang beragam. Namun demikian, keberagaman itu dikelompokkan menjadi dua bagian yang mendasar. Pertama, kebutuhan untuk keberlangsungan hidup dan pelestarian jenis (spesies). Kedua, kebutuhan untuk mencapai ketenangan jiwa dan kebahagiaan hidup. Dua kebutuhan pokok inilah yang mendorong atau memotivasi manusia melakukan aktifitasnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut. 

Jika seseorang dihadapkan pada dua pengaruh motivasi yang masing-masing sama kekuatannya tetapi tujuan keduanya berlawanan, maka motivasi pertama akan menariknya ketujuan tertentu. Adapun motivasi yang lain menariknya ketujuan yang berlawanan dengan tujuan pertama. Hal ini menyebabkan perasaan bingung dalam diri seseorang karena tidak mampu memenuhi kebutuhan kedua motivasi tersebut secara bersamaan. 

Kondisi seperti ini membingungkan seseorang dalam menentukan pilihan di antara dua tujuan yang berbeda. Kondisi seperti ini diistilahkan sebagai konflik kejiwaan. Akibatnya orang akan mengalami depresi, stress dan gangguan mental lainnya. Apabila dibiarkan dan tak disadari oleh setiap individu sehingga menjadi parah gangguan mental dapat berujung pada langkah bunuh diri. Kondisi seperti inilah yang bisa mengganggu kesehatan mental seseorang.

Apakah sebenarnya kesehatan mental itu? Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejalan gangguan atau penyakit mental, terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antar fungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia didunia dan di akhirat, Ciri-ciri orang sehat mental menghadapi sepenuhnya kemampuan dirinya. Adapun jenis mental tidak sehat disebutkan sebagai perilaku abnormal, sakit mental (mental illness), sakit jiwa (insanity, lunacy, madness). Tidak hanya kalangan orang dewasa yang mengalami gangguan kesehatan mental. 

Peserta didik pun kadang mengalami gangguan tersebut baik di semua tingkatan SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Oleh karena itu peran guru sangat dibutuhkan dalam hal ini. Implikasi kesehatan mental guru terhadap penyelenggaraan pendidikan yaitu mendesain visi, misi dan tujuan yang secara simultan, memberdayakan program-program pengembangan diri , bimbingan, konsultasi dan sejenisnya, pendekatan moral dan karakter diintegrasikan dalam seluruh proses pembelajaran secara konsisten untuk menjamin kesehatan mental.

 Perlu juga diketahui oleh seorang guru bahwa remaja merupakan periode kritis      perkembangan anak menjadi dewasa, pada saat ini terjadi perkembangan hormonal, fisik, psikologis dan sosial yang cepat. Masa peralihan pada usia remaja tidak dapat dikatakan sebagai anak kecil dan juga belum dapat dikatakan sebagai orang dewasa. Remaja ingin mencoba banyak hal baru yang dapat membuktikan dirinya sebagai orang dewasa, tidak jarang hal ini yang membuatnya mencoba berbagai hal yang berisiko antara lain konsumsi alkohol, narkoba, memiliki pacar, perilaku seksual, memiliki peer group, dan berbeda pendapat dengan orangtua. Berbagai perubahan yang terjadi pada diri dan perilaku berisiko remaja ini seringkali memicu konflik antara remaja dengan dirinya sendiri (konflik internal), dan konflik dengan lingkungan sekitarnya (konflik eksternal). 

Apabila konflik ini tidak diselesaikan dengan baik maka akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan remaja tersebut di masa mendatang, terutama terhadap pematangan karakternya dan tidak jarang memicu terjadinya gangguan mental. Masa remaja awal adalah masa perubahan psikologis, dimana remaja akan diuji kemampuannya dalam melaksanakan peran dan mengembangkan keterampilan.
 
 Ketidakstabilan emosi juga menyebabkan orang lain sulit memahami remaja dan kadangkala remaja pun sering tidak mengerti dirinya sendiri.

Gangguan mental emosional diharapkan tidak berkembang menjadi lebih serius jika dilakukan pengobatan sedini mungkin. Masa remaja awal adalah masa perubahan psikologis. Faktor usia16 tahun ke atas serta pelajar yang mengalami pelecehan baik dari teman ataupun berupa sikap merendahkan oleh orangtua mempunyai risiko >2 kali mengalami gejala mental emosional. 

Peran orangtua dan pertemanan sangat penting dalam mempengaruhi mental emosional pelajar. Diperlukan pendampingan, baik oleh orang tua dan sekolah serta dikembangkan peer group pelajar yang berisi kegiatan produktif akan dapat mengatasi masalahnya.

Penulis : Srihidayani Syam, S.pd.

TerPopuler